STIKes Widya Dharma Husada Tangerang
Hipertensi

STROKE

Mengenal penyakit stroke

Stroke merupakan gangguan sistem syaraf yang masih dalam kategori mengancam jiwa, dimana faktor risiko terjadinya stroke adalah peningkatan tekanan darah atau hipertensi.

Stroke iskemik dan hemoragik secara global menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah penyakit jantung iskemik. Stroke tergolong dalam penyakit serebrovaskuler yang merupakan penyakit gawat darurat dan membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.

Edukasi Hipertensi
Hipertensi

STROKE HEMORAGIK

Stroke perdarahan intraserebral (Intracerebral Hemorrhage, ICH) atau yang biasa dikenal sebagai stroke hemoragik, yang diakibatkan pecahnya pembuluh intraserebral. Kondisi tersebut menimbulkan gejala neurologis yang berlaku secara mendadak dan seringkali diikuti gejala nyeri kepala yang berat pada saat melakukan aktivitas akibat efek desak ruang atau peningkatan tekanan intrakranial (TIK).

Stroke hemoragik terjadi pada otak yang mengalami kebocoran atau pecahnya pembuluh darah yang ada di dalam otak, sehingga darah menggenangi atau menutupi ruang-ruang jaringan sel di dalam otak. Stroke hemoragik umumnya didahului oleh penyakit hipertensi. Hipertensi merupakan faktor resiko paling penting pada kejadian stroke hemoragik baik bagi lakilaki ataupun perempuan.

Hipertensi

STROKE ISKEMIK (NON HEMORAGIK)

Stroke iskemik (non hemoragik) terjadi bila pembuluh darah yang memasok darah ke otak tersumbat. Kondisi yang mendasari stroke iskemik adalah penumpukan lemak yang melapisi dinding pembuluh darah (disebut aterosklerosis). Kolesterol, homocysteine dan zat lainnya dapat melekat pada dinding arteri, membentuk zat lengket yang disebut plak. Seiring waktu, plak menumpuk. Hal ini sering membuat darah sulit mengalir dengan baik dan menyebabkan bekuan darah (trombus) Gejala stroke iskemik ini dapat bervariasi pada seseorang yang mengalaminya, tergantung pada lokasi arteri di bagian otak yang terpengaruh.

Edukasi Hipertensi

TANDA DAN GEJALA STROKE

Stroke merupakan penyakit yang datangnya tanpa pandang bulu. Hal ini lantaran penyakit stroke bisa menyerang siapa saja mulai dari remaja hingga lansia. Kenali gejala stroke agar dapat segera mendapat penanganan yang tepat. Dengan mengenali gejala stroke, seseorang dapat merasakan berbagai macam dampak mulai dari kecacatan fisik hingga kematian. Berikut ini beberapa gejala stroke yang sering disebut dengan "SeGeRa Ke RS".

Edukasi Hipertensi
Hipertensi

FAKTOR RESIKO STROKE

Banyak faktor yang dapat memperbesar risiko atau kecenderungan seseorang menderita stroke. Faktor risiko stroke terbagi menjadi 2, dimana ada yang tidak dapat diubah dan ada yang dapat diubah, faktor-faktornya sebagai berikut:

Edukasi Hipertensi

FAKTOR RISIKO YANG DAPAT DI UBAH

1. Mengontrol Penyakit Diabetes

Diabetes meningkatkan risiko stroke hingga 1,5 kali lipat. Jaga pola makan, batasi gula, dan kontrol dengan obat bila diperlukan.

2. Mengontrol Penyakit Jantung

Penyakit jantung menjadi faktor risiko stroke. Jika tidak terkontrol, risikonya meningkat, namun dengan pengendalian baik dan kontrol rutin ke dokter, risiko stroke dapat berkurang.

3. Kurangnya aktivitas fisik

Gaya hidup kurang aktif dapat memicu obesitas, hipertensi, dan diabetes yang meningkatkan risiko stroke. Rutin berolahraga 30 menit sehari, seperti jalan santai atau workout ringan di rumah, dapat membantu mencegahnya.

4. Hipertensi (tekanan darah tinggi)

Tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke. Konsumsi garam berlebih dapat memicu hipertensi yang merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan darah.

5. Obesitas

Obesitas meningkatkan risiko stroke karena berkaitan dengan diabetes dan hipertensi. Jaga berat badan sehat dengan kontrol porsi makan dan rutin beraktivitas fisik.

FAKTOR RESIKO YANG TIDAK DAPAT DI UBAH

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah karakteristik yang tidak dapat diubah oleh pasien, antara lain usia, berat badan lahir rendah, ras/etnik, dan faktor genetik.

Edukasi Hipertensi

1. Usia

Obesitas

Risiko stroke meningkat dua kali lipat setelah usia ≥55 tahun, dan lebih dari 70% kasus terjadi pada usia >65 tahun. Seiring penuaan, fungsi organ menurun, pembuluh darah otak menebal dan kurang elastis, sehingga aliran darah ke otak berkurang.

2. Jenis kelamin

Merokok

Jumlah responden laki-laki (28) dan perempuan (26) hampir seimbang, dan tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian stroke. Hasil ini sesuai Riskesdas 2018 yang menunjukkan prevalensi stroke hampir sama pada laki-laki dan perempuan, meski penelitian lain melaporkan lebih banyak pada laki-laki karena faktor risiko seperti hipertensi, merokok, alkohol, dan dislipidemia.

3. Riwayat keluarga

Konsumsi garam

Riwayat keluarga berhubungan signifikan dengan kejadian stroke. Responden dengan riwayat keluarga stroke, hipertensi, diabetes, atau jantung berisiko 4,1 kali lebih tinggi terkena stroke. Faktor ini berkaitan dengan penurunan risiko seperti hipertensi dan diabetes, namun bukan faktor independen. Penelitian juga membuktikan riwayat keluarga memiliki hubungan bermakna dengan kejadian stroke.

4. Ras

Kurang buah sayur

Orang kulit hitam non-Hispanik memiliki risiko stroke pertama hampir dua kali lipat dan lebih tinggi kemungkinan meninggal akibat stroke dibandingkan orang kulit putih maupun etnis lain.

Hipertensi

PATOFISIOLOGI

1. Stroke Iskemik

Infark serebri diawali dengan terjadinya penurunan cerebral blood flow (CBF) yang menyebabkan suplai oksigen ke otak berkurang. Jaringan serebrovaskular yang terjadi pada keadaan iskemia terdiri dari dua lapisan, yaitu:

  • Lapisan luar yang mengalami iskemia yang lebih ringan atau disebut dengan jaringan penumbra, yang dapat diselamatkan dengan intervensi segera.
  • Lapisan dalam yang mengakami iskemia berat yang telah mengalami nekrosis

2. Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah sehingga darah terkumpul di rongga dalam tengkorak. Stroke hemoragik terbagi menjadi perdarahan intraserebral (di dalam jaringan otak) dan perdarahan subaraknoid (di ruang antara otak dan selaput arakhnoid).

KLASIFIKASI

Hipertensi

Stroke dibagi menjadi 2, yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik

a. Stroke Iskemik

Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak, umumnya disebabkan oleh penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Ini menyebabkan penghambatan aliran darah dan pembentukan bekuan darah (trombus). Gejalanya bervariasi, tergantung pada lokasi pembuluh yang terpengaruh.

b. Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak, yang menghalangi aliran darah dan menekan jaringan otak di sekitarnya.

PENCEGAHAN STROKE

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan terbesar di dunia. Namun, stroke bisa dicegah dengan gaya hidup sehat. Berikut langkah sederhana untuk menjaga kesehatan otak dan pembuluh darah:

Hipertensi

PENATALAKSANAAN STROKE

Penatalaksanaan stroke dapat dilakukan dengan pendekatan FAST dan ROM. Metode FAST digunakan untuk mendeteksi dini gejala stroke agar pasien segera mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, metode ROM (Range of Motion) lebih difokuskan pada fase rehabilitasi setelah serangan stroke untuk mencegah kekakuan otot dan mempertahankan fungsi gerak.

Hipertensi Hipertensi

Fakta dan Mitos Stroke

ACEi

Stroke terjadi saat aliran darah ke otak tersumbat atau pembuluh darah pecah. Serangannya datang tiba-tiba dan bisa membuat fungsi otak terganggu. Karena itu, sangat penting memberi pertolongan pertama secepat mungkin saat seseorang terkena stroke.

Mitos 1: Mitos Pertolongan Pertama Stroke Tusuk Jarum

Tusuk jarum bukan pertolongan pertama stroke. Metode ini berbahaya, bisa membuat tekanan darah naik, memperparah stroke, dan menimbulkan infeksi bila jarum tidak steril. Stroke terjadi karena masalah pembuluh darah di otak, bukan di jari. Tusuk jarum hanya menambah risiko infeksi.

Pertolongan pertama yang benar :

  1. Kenali gejala FAST
    • F (Face): Wajah menurun sebelah.
    • A (Arms): Lengan melemah atau turun saat diangkat.
    • S (Speech): Bicara pelo atau sulit bicara.
    • T (Time): Segera hubungi ambulans.
  2. Gejala lain: pusing mendadak, sakit kepala hebat, muntah, penglihatan buram, atau kejang.
  3. Pastikan jalan napas aman. Posisikan kepala sedikit terangkat bila ada muntahan.
  4. Pantau napas dan nadi

Mitos 2: Stroke Hanya Menyerang Orang Tua

Stroke bisa terjadi pada semua usia. Memang lebih sering pada usia di atas 55 tahun, namun kini banyak terjadi pada usia 25-45 tahun. Stroke usia muda sering dikaitkan dengan kelainan pembuluh darah, gangguan sel darah, dan gaya hidup tidak sehat.

Mitos 3: Stroke Tidak Dapat Dicegah

Stroke bisa dicegah. Sekitar 80% kasus dapat dihindari dengan perilaku CERDIK:

  • C : Cek kesehatan rutin
  • E : Enyahkan asap rokok
  • R : Rajin bergerak/olahraga
  • D : Diet sehat dan seimbang
  • I : Istirahat yang cukup
  • K : Kelola stres

Mitos 4: Pengobatan Dapat Dihentikan bila Gejala Sudah Menghilang

Penderita stroke punya risiko lebih tinggi terkena stroke kembali dengan gejala lebih berat. Karena itu penting menerapkan PATUH:

  • P : Periksa kesehatan rutin
  • A : Atasi penyakit dengan obat yang tepat
  • T : Tetap diet sehat dan gizi seimbang
  • U : Upayakan aktivitas fisik yang aman
  • H : Hindari rokok, alkohol, dan zat berbahaya
© 2025 Deteksi Dini Stroke Pada Penderita Hipertensi | All Rights Reserved