HIPERTENSI
Mengenal penyakit hipertensi
Sebagai salah satu penyakit yang cukup berbahaya hingga mendapatkan julukan The Silent Killer, Hipertensi atau yang biasa dikenal dengan darah tinggi sangat perlu mendapatkan perhatian dari setiap individu. Hal ini dikarenakan hipertensi dapat menyerang setiap orang tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik pada tubuh seseorang lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg.
Faktor risiko hipertensi
Banyak faktor yang dapat memperbesar risiko atau kecenderungan seseorang menderita hipertensi. Faktor risiko hipertensi terbagi menjadi 2, dimana ada yang tidak dapat diubah dan ada yang dapat diubah, faktor-faktornya sebagai berikut :
Faktor risiko yang tidak dapat diubah
1. Usia
Biasanya, muncul di usia di atas 60 tahun. Hal ini karena seiring bertambahnya usia, pembuluh darah secara bertahap kehilangan sebagian dari kualitas elastisnya, yang dapat berkontribusi pada peningkatan tekanan darah.
2. Jenis kelamin
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), wanita memiliki kemungkinan yang sama dengan pria untuk mengembangkan tekanan darah tinggi di beberapa titik selama hidup. Hingga usia 64 tahun, pria lebih mungkin terkena tekanan darah tinggi daripada wanita. Sementara, pada usia di atas 65 tahun, wanita lebih mungkin untuk mendapatkan tekanan darah tinggi.
3. Genetik
Gen memainkan beberapa peran dalam tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kondisi terkait lainnya. Ketika anggota keluarga mewariskan sifat dari satu generasi ke generasi lain melalui gen, proses ini disebut hereditas.
Faktor risiko yang dapat diubah
1. Obesitas
Obesitas berarti memiliki kelebihan lemak tubuh. Saat ini terjadi, maka jantung pun harus bekerja lebih keras untuk memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh. Seiring waktu, tekanan pada jantung dan pembuluh darah pun menjadi bertambah.
2. Merokok
Nikotin dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan menghirup karbon monoksida yang dihasilkan rokok. Artinya, mengurangi jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh darah. Kandungan ini dapat merusak jantung dan pembuluh darah, termasuk meningkatkan hipertensi.
3. Konsumsi garam berlebih
Menurut penelitian berjudul Sodium Intake and Hypertension, pola makan yang mengonsumsi garam dalam jumlah banyak dapat meningkatkan tekanan darah secara signifikan. Mengonsumsi garam akan membuat natrium menarik lebih banyak cairan ke dalam darah dan meningkatkan volume darah.
4. Kurang makan buah dan sayur
Buah dan sayur kaya akan serat, vitamin, dan mineral seperti kalium, magnesium, serta antioksidan yang membantu menurunkan tekanan darah. Sayuran pantangan darah tinggi umumnya tinggi natrium atau diolah dengan tambahan garam berlebih.
5. Kurang beraktivitas fisik
Saat berolahraga, darah akan terpompa ke seluruh tubuh lebih cepat. Orang yang rajin bergerak dan rutin olahraga memiliki risiko hipertensi lebih rendah. Sebaliknya, jarang berolahraga meningkatkan risiko hipertensi karena tidak ada pembakaran lemak dan peredaran darah tidak lancar.
6. Konsumsi alkohol berlebih
Mengonsumsi alkohol bisa menyebabkan perubahan mental, perilaku, kehilangan keseimbangan, bahkan koma atau kematian bila kadar terlalu tinggi.
7. Dislipidemia
Dislipidemia adalah kondisi abnormal kadar lemak darah (kolesterol dan trigliserida) yang sangat berkaitan dengan hipertensi, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti aterosklerosis, stroke, dan penyakit jantung koroner.
8. Stress
Stres dapat menyebabkan hipertensi melalui peningkatan tekanan darah yang berulang serta stimulasi sistem saraf untuk memproduksi hormon vasokonstriksi yang meningkatkan tekanan darah.
Patofisiologi
Hipertensi adalah kondisi peningkatan tekanan darah sistemik yang persisten. Tekanan darah sendiri adalah hasil dari curah jantung (cardiac output) dan resistensi pembuluh darah perifer total. Sekitar 90% hipertensi merupakan hipertensi esensial yang tidak diketahui penyebabnya, namun faktor genetik, sistem saraf simpatis, sistem renin-angiotensin-aldosteron, dan asupan garam berperan penting. Hipertensi sekunder (10%) dapat disebabkan kelainan ginjal, tiroid, atau adrenal.
Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebab dibagi menjadi primer (90%, tanpa penyebab jelas) dan sekunder (10%, ada penyebab jelas seperti gangguan ginjal, tiroid, atau adrenal). Selain itu, juga dikelompokkan berdasarkan hasil pemeriksaan tekanan darah.
Tanda & Gejala hipertensi
Meskipun pada umumnya penderita hipertensi tidak menunjukkan gejala spesifik, beberapa keluhan dapat muncul, seperti sakit kepala, pusing, kelelahan, gangguan penglihatan, dan palpitasi.
Pencegahan Hipertensi
P2PTM Kementerian Kesehatan Indonesia mengeluarkan jargon “CERDIK” untuk mencegah Hipertensi: Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres dengan baik.
Penatalaksaan Hipertensi
A. Farmakologis
1. Golongan ACE inhibitor (ACEi) & ARB: captopril, lisinopril, perindopril, ramipril, dll.
2. Golongan Calcium Channel Blockers (CCB): amlodipin, felodipin, nifedipin, dll.
Fakta dan Mitos Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi masalah kesehatan besar karena bisa terjadi tanpa gejala, tetapi dapat menyebabkan bahaya seperti stroke dan gagal jantung. Karena itu, penting bagi kita mengetahui mana yang benar dan mana yang hanya mitos, supaya tekanan darah bisa dikendalikan dengan cara yang tepat.
Mitos 1: Hipertensi tidak berbahaya jika tidak ada gejala.
Banyak orang mengira tekanan darah tinggi tidak berbahaya karena tidak terasa. Padahal, hipertensi bisa merusak ginjal, jantung, dan otak tanpa gejala. Karena itu, cek tekanan darah secara rutin sangat penting untuk mencegah penyakit berat. Walau tubuh terasa sehat, tekanan darah bisa tetap tinggi. Jadi, jangan menunda pemeriksaan dan tetap jaga tekanan darah agar terhindar dari komplikasi serius.
Mitos 2: Hipertensi hanya disebabkan faktor keturunan dan tidak bisa dicegah.
Walau ada faktor keturunan, tekanan darah tinggi tetap bisa dicegah dengan gaya hidup sehat. Terlalu banyak garam, jarang bergerak, berat badan berlebih, dan merokok dapat membuat tekanan darah naik. Dengan mengurangi garam, rutin berolahraga, menjaga berat badan, dan berhenti merokok, risiko hipertensi dapat turun, meski ada riwayat keluarga. Jadi, pilihan hidup sehari-hari sangat menentukan kesehatan tekanan darah.
Mitos 3: Jika tekanan darah sudah normal, obat bisa dihentikan.
Banyak orang berhenti minum obat saat tekanan darah sudah normal, padahal itu belum berarti sembuh. Obat harus diminum terus sesuai anjuran dokter, karena berhenti tiba-tiba bisa membuat tekanan darah naik lagi. Kepatuhan minum obat sangat penting untuk menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah stroke atau serangan jantung. Pasien yang rutin minum obat terbukti lebih sehat dibanding yang menghentikannya sendiri.
Mitos 4: Mengurangi konsumsi garam dapur saja sudah cukup untuk mengendalikan hipertensi.
Bukan hanya garam dapur, makanan kemasan dan olahan juga banyak mengandung garam tersembunyi yang bisa menaikkan tekanan darah. Banyak orang tidak sadar karena tidak menambah garam saat memasak. Karena itu, biasakan membaca label makanan dan batasi makanan kalengan, saus, dan makanan siap saji. Mengurangi garam sangat penting untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol.
Mitos 5: Penderita hipertensi harus sepenuhnya menghindari daging merah dan santan.
Daging merah dan santan tetap boleh dimakan oleh penderita hipertensi asalkan porsinya wajar dan cara memasaknya sehat, tanpa banyak garam atau lemak. Yang penting adalah tidak berlebihan. Atur porsi dan pilih cara masak yang lebih sehat agar makanan favorit tetap aman dan tidak menaikkan tekanan darah.